Menolak Lupa di Atas Panggung: Menghidupkan Jiwa Pahlawan Lewat Hentakan Tari Soreng Sumowono


Di era sekarang, kalau kita bicara soal "patriotisme" atau jiwa kepahlawanan, pikiran kita mungkin langsung melayang ke masa lalu—ke cerita tentang bambu runcing, medan perang, dan pertumpahan darah. Tapi mari kita jujur, di zaman globalisasi ini, musuh terbesar kita bukan lagi penjajah asing, melainkan rasa abai kita sendiri terhadap identitas bangsa.

Ketika anak-anak muda hari ini lebih hafal koreografi modern dance kebarat-baratan dibanding tari tradisional, di situlah identitas kita sedang dipertaruhkan. Kalau dibiarkan, kesenian lokal lambat laun bisa hilang atau cuma dianggap sebagai hiburan murahan pengisi waktu luang.
Untungnya, di sudut Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, nyala api patriotisme itu tidak padam. Lewat Kesenian Tari Soreng, para pelaku seni lokal dari berbagai desa—mulai dari Dusun Jagoan, Ngasinan, Candi, hingga Kemitir—sedang berjuang melakukan pembelaan negara dengan cara yang paling estetis: merawat tradisi.
Tari Soreng yang menceritakan ketegasan prajurit Arya Penangsang saat berlatih perang ini bukan sekadar hiburan visual. Jika kita bedah lebih dalam, ada 8 nilai patriotisme yang hidup dan bernapas di dalam setiap elemen pementasannya:
8 Napas Kepahlawanan dalam Satu Tarian
  • Keteladanan: Nilai ini tercermin sejak awal sebelum tabuhan gamelan dimulai, di mana para penari dan tetua adat selalu berkumpul untuk berdoa bersama, meminta kelancaran kepada Yang Maha Kuasa.
  • Rela Berkorban: Kunci dari lestarinya budaya adalah ketulusan hati. Para seniman di Sumowono rela menyisihkan waktu, tenaga, dan urusan pribadinya demi latihan rutin agar bisa menyuguhkan penampilan terbaik untuk penonton.
  • Cinta Tanah Air: Ditunjukkan melalui kegigihan kelompok seni untuk menjaga eksistensi Tari Soreng tetap hidup, bahkan memanfaatkan media sosial seperti YouTube agar tarian khas daerah ini bisa dikenal lebih luas.
  • Pantang Menyerah: Terbukti dari komitmen para penari yang tetap menyelesaikan pertunjukan sampai selesai, meskipun kondisi cuaca di lapangan terkadang sama sekali tidak mendukung.
  • Percaya Diri: Menepis stigma. Meskipun menari sering kali diidentikkan dengan kelembutan, para penari laki-laki di sini dengan percaya diri tampil sangat maskulin, gagah, dan berenergi tinggi di atas panggung.
  • Solidaritas: Sebelum naik panggung, tidak ada ego individu. Semua anggota paguyuban melebur jadi satu keluarga besar yang saling bergotong-royong, mulai dari pasang panggung hingga saling membantu riasan (make-up).
  • Gagah Berani: Jiwa ksatria ini terpancar kuat dari riasan wajah penari yang menggunakan alis dan kumis hitam tebal, warna lipstik mencolok, serta gerakan tegas yang menggambarkan prajurit yang siap berperang.
  • Keuletan: Ujian ini sangat terasa di masa-masa sulit seperti pandemi lalu. Para pelaku seni tidak memilih pasif atau bermalas-malasan, melainkan tetap mencari cara kreatif agar latihan dan pelestarian tari tetap berjalan dengan sungguh-sungguh.



Opini & Analisis Kritis: Mengapa Tari Soreng Bukan Cuma Urusan Seniman?
Tantangan terbesar Tari Soreng saat ini adalah pandangan sebagian masyarakat yang menganggapnya "ketinggalan zaman" atau sekadar pelipur lara belaka. Padahal, tarian ini adalah medium character building (pembentukan karakter) yang sangat organik untuk generasi muda. Saat anak muda ikut menari atau menonton Soreng, mereka secara tidak sadar sedang menyerap energi ketegasan, disiplin, dan rasa bangga pada budaya sendiri.
Namun, kita harus realistis. Romantisme idealisme "melestarikan budaya" tidak akan bertahan lama jika para seniman dibiarkan berjuang sendirian tanpa dukungan nyata.
Oleh karena itu, pelestarian ini butuh aksi konkret dari sistem. Pemerintah desa maupun kecamatan harus mulai bersinergi. Dukungan tidak boleh cuma berupa pujian atau tepuk tangan saat festival, tapi harus masuk ke dalam sistem penganggaran formal seperti APBD atau APBDes untuk pembinaan kesenian secara berkelanjutan.
Bagi kita, generasi digital, tugasnya adalah menjadi "pengeras suara". Jangan biarkan Tari Soreng hanya bergaung di Sumowono saja. Manfaatkan ponsel dan media sosial kita untuk membagikan keindahan Soreng ke kancah nasional hingga internasional. Karena pada akhirnya, menjadi patriot di masa kini sesederhana bangga dan ikut andil menjaga apa yang diwariskan oleh leluhur kita.

Tidak ada komentar:

Menolak Lupa di Atas Panggung: Menghidupkan Jiwa Pahlawan Lewat Hentakan Tari Soreng Sumowono

Di era sekarang, kalau kita bicara soal "patriotisme" atau jiwa kepahlawanan, pikiran kita mungkin langsung melayang ke masa lalu—...