Aliran Ilmu Filsafat


Sebagai bagian dari bangunan besar filsafat, filsafat ilmu hilang dan tumbuh berganti dari mashab yang satu ke mashab yang lainnya. Ini karena pemikiran filsafat ilmu berasal dari pikiran manusia. “Filsafat adalah pengetahuan atas realitas dalam kemungkingn-kemungkinan akal manusia, karena filsafat berakhir pada teori ilmu pengetahuan untuk memperoleh kebenaran dan bertindak di atas rel kebenaran yang sudah ditemukan”, demikian kata Abu Y’aqub al-kindi (dalam Hossein Nasr, 1993)

Makalah ini tertarik untuk mengkaji tentang aliran-aliran yang berkembang dalam filsafat ilmu. Prinsip prinsip dari filsafat ilmu akan dijelaskan, cara pemerolehan ilmu dalam masing-masing aliran akan dieksplorasi dan kontribusi masing-masing aliran dalam membangun pengetahuan akan didiskusikan.

Rasionalisme
Rasionalisme adalah mashab filsafat ilmu yang berpandangan bahwa rasio adalah sumber dari segala pengetahuan. Dengan demikian, kriteria kebenaran berbasis pada intelektualitas. Strategi pengembangan ilmu model rasionalisme, dengan demikian, adalah mengeksplorasi gagasan dengan kemampuan intelektual manusia.

Sejak abad pencerahan, rasionalisme diasosiasikan dengan pengenalan metode matematika (Rasionalisme continental). Tokoh-tokoh rasionalisme diantaranya adalah Descartes, Leibniz dan Spinoza.

Benih rasionalisme sebenarnya sudah ditanam sejak jaman Yunani kuno. Salah satu tokohnya, Socrates, mengajukan sebuah proposisi yang terkenal bahwa sebelum manusia memahami dunia ia harus memahami dirinya sendiri. Kunci untuk memahami dirinya itu adalah kekuatan rasio.
Para pemikir rasionalisme berpandangan bahwa tugas dari para filosof diantaranya adalah membuang pikiran irasional dengan rasional. Pandangan ini misalnya disokong oleh Descartes yang menyatakan bahwa pengetahuan sejati hanya didapat dengan menggunakan rasio. Tokoh lain, Baruch Spinoza secara lebih berani bahkan mengatakan : “God exists only philosophically” (Calhoun, 2002).

Sumbangan rasionalisme tampak nyata dalam membangun ilmu pengetahuan modern yang didasarkan pada kekuatan pikiran atau rasio manusia. Hasil-hasil teknologi era industri dan era informasi tidak dapat dilepaskan dari andil rasionalisme untuk mendorong manusia menggunakan akal pikiran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan manusia.

Empirisme
Empirisme adalah sebuah orientasi filsafat yang berhubungan dengan kemunculan ilmu pengetahuan modern dan metode ilmiah. Empirisme menekankan bahwa ilmu pengetahuan manusia bersifat terbatas pada apa yang dapat diamati dan diuji. Oleh karena itu, aliran empirisme memiliki sifat kritis terhadap abstraksi dan spekulasi dalam membangun dan memperoleh ilmu. Strategi utama pemerolehan ilmu, dengan demikian, dilakukan dengan penerapan metode ilmiah.
Para ilmuwan berkebangsaan Inggris seperti John Locke, George Berkeley dan David Hume adalah pendiri utama tradisi empirisme (Calhoun, 2002).

Sumbangan utama dari aliran empirisme adalah lahirnya ilmu pengetahuan modern dan penerapan metode ilmiah untuk membangun pengetahuan. Selain itu, tradisi empirisme adalah fundamen yang mengawali mata rantai evolusi ilmu pengetahuan sosial, terutama dalam konteks perdebatan apakah ilmu pengtahuan sosial itu berbeda dengan ilmu alam. Sejak saat itu, empirisme menempati tempat yang terhormat dalam metodologi ilmu pengetahuan sosial. Acapkali empirisme diparalelkan dengan tradisi positivism. Namun demikian keduanya mewakili pemikiran filsafat ilmu yang berbeda.

Realisme
Dalam pemikiran filsafat, realisme berpandangan bahwa kenyataan tidaklah terbatas pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang tebangun dari dalam. Dengan demikian realisme dapat dikatakan sebagai bentuk penolakan terhadap gagasan ekstrim idealisme dan empirisme. Dalam membangun ilmu pengetahuan, realisme memberikan teori dengan metode induksi empiris. Gagasan utama dari realisme dalam konteks pemerolehan pengetahuan adalah bahwa pengetahuan didapatkan dari dual hal, yaitu observasi dan pengembangan pemikiran baru dari observasi yang dilakukan. Dalam konteks ini, ilmuwan dapat saja menganalisa kategori fenomena-fenomena yang secara teoritis eksis walaupun tidak dapat diobservasi secara langsung.

Tradisi realisme mengakui bahwa entitas yang bersifat abstrak dapat menjadi nyata (realitas) dengan bantuan symbol-simbol linguistik dan kesadaran manusia. Gagasan ini sejajar dengan filsafat modern dari pendekatan pengetahuan versi Kantianism fenonomologi sampai pendekatan struktural (Ibid, 2002). Mediasi bahasa dan kesadaran manusia yang bersifat nyata inilah yang menjadi ide dasar ‘Emile Durkheim’ dalam pengembangan ilmu pengetahuan sosial. Dalam area linguistik atau ilmu bahasa, de Saussure adalah salah satu tokoh yang terpengaruh mengadopsi pendekatan empirisme Durkheim. Bagi de Saussure, obyek penelitian bahasa yang diteliti diistilahkan sebagai ‘la langue’ yaitu simbol-simbol linguistic yang dapat diobservasi (Francis & Dinnen, 1996)

Ide-ide kaum realis seperti ini sangatlah kontributif pada abad 19 dalam menjembatani antara ilmu alam dan humaniora, terutama dalam konteks perdebatan antara klaim-klaim kebenaran dan metodologi yang disebut sebagai ‘methodenstreit’ (Calhoun, 2002). Kontribusi lain dari tradisi realisme adalah sumbangannya terhadap filsafat kontemporer ilmu pengetahuan, terutama melalui karya Roy Bashkar, dalam memberikan argument-argument terhadap status ilmu pengetahuan spekulatif yang diklaim oleh tradisi empirisme.

Idealism
Idealisme adalah tradisi pemikiran filsafat yang berpandangan bahwa doktrin tentang realitas eksternal tidak dapat dipahami secara terpisah dari kesadaran manusia. Dengan kata lain kategori dan gagasan eksis di dalam ruang kesadaran manusia terlebih dahulu sebelum adanya pengalaman-pengalaman inderawi. Pandangan Plato bahwa semua konsep eksis terpisah dari entitas materinya dapat dikatakan sebagai sumber dari pandangan idealism radikal. Karya dan pandangan Plato memberikan garis demarkasi yang jelas antara pikiran-pikiran idealis dengan pandangan materialis. Aritoteles menjadi orang yang memberikan tantangan pemikiran bagi gagasan-gagasan idealis Plato. Aristoteles mendasarkan pemikiran filsafatnya berdasarkan materi dan fisik.

Salah satu sumbangan dari tradisi filsafat idealisme adalah pengaruh idealism platonic dalam agama kristen. Dalam Perjanjian Baru terdapat gagasan yang diagungkan, yakni “Permulaan adalah kata-kata” (Ibid, 2002). Pada gilirannya, dalam sejarah, pemikiran Kristen turut memberikan andil dalam membentuk tradisi idealis terutama gagasan-gagasan dari Sain Augustine dengan pengembangan konsep penyucian jiwa. Selain Kristen, pemikiran yang turut memberikan saham bagi tradisi idealis adalah mistisisme Yahudi, mistisisme Kristen dan pengembangan pemikiran matematika oleh bangsa-bangsa Arab. Gerakan-gerakan pemikiran inilah yang kemudian membentuk dialektika modern antara idealisme dan materialism sejak era renaisans.

Sumbangan idealism terhadap ilmu pengetahuan modern sangatlah jelas. Ilmu pengetahuan modern diniscayakan oleh kohesi antara bukti-bukti empiris dan formasi teori. Kaum materialis mendasarkan pemikirannya pada bukti-bukti empiris sedangkan kaum idealis pada formasi teori. Sebagai sebuah tradisi filosofi, idealisme tak bisa dipisahkan dengan gerakan Pencerahan dan filsafat Pasca Pencerahan Jerman. Salah satu tokoh pemikir idealis yang tersohor adalah Immanuel Kant. Melalui bukunya “Critique of pure reason” yang diterbitakan tahun 1781, Kant menentang pendapat tradisi tokoh empiris seperti David Hume dan lain-lainnya. Kant mengatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman dunia memerlukan kategori dan pandangan yang berada dalam ruang kesadaran manusia (ibid, 2002). Gagasan Kant yang terkenal adalah ‘idealisme transedental’. Dalam konsep ini Kant berargumen bahwa ide-ide rasional dibentuk tidak saja oleh ‘phenomenal’ tapi juga ‘noumenal’, yakni kesadaran transedental yang berada pada pikiran manusia (ibid, 2002). Generasi idealis berikutnya dipelopori oleh, Georg Hegel. Hegel mengenalkan gagasan pendekatan dialektis yang tidak memihak baik gagasan ‘kesadaran mental’ Kant maupun ‘bukti-bukti material’ dari kaum empiris. Pikiran-pikiran Hegel inilah yang kemudian melahirkan konsep ‘spirit’-sebuah konsep yang integral dengan kelahiran tradisi ‘idealisme absolut’ (ibid, 2002).

Dengan demikian, pemikiran filsafat idealisme dibangun terutama oleh gagasan-gagasan Hegel dan Kant. Namun demikian, bangunan filsafat politik modern yang berpaham bahwa manusia dapat mengatur dunia melalui ilmu pengetahuan telah membuktikan vitalitas aliran idealisme Kantian. Tokoh-tokoh yang meletakkan batu pertama bagi fondasi filsafat politik modern antara lain John Rawls yang menulis tentang teori keadilan dan Habermas (1987) yang membuahkan karya ‘Communication action’. Melalui karya ini Habermas menjadi tokoh idealis yang mengoreksi idealisme konvensional. Bagi kaum idealis konvensional, kenyataan sejarah merupakan determinisme sejarah yang statis dan tidak dapat ditolak. Namun bagi Habermas, kenyataan sejarah adalah hasil dari dialektika dan komunikasi antar manusia. Dengan kata lain, Habermas memposisikan manusia menjadi subyek aktif dalam praktek-praktek politik dan dalam membangun institusi-institusi sosial.

Positivisme
Positivisme adalah doktrin filosofi dan ilmu pengetahuan sosial yang menempatkan peran sentral pengalaman dan bukti empiris sebagai basis dari ilmu pengetahuan dan penelitian. Terminologi positivisme dikenalkan oleh Auguste Comte untuk menolak doktrin nilai subyektif, digantikan oleh fakta yang bisa diamati serta penerapan metode ini untuk membangun ilmu pengetahuan yang diabdikan untuk memperbaiki kehidupan manusia.

Salah satu bagian dari tradisin positivism adalah sebuah konsep yang disebut dengan positivisme logis. Positivisme ini dikembangkan oleh para filosof yang menamakan dirinya ‘Lingkaran Vienna’ (Calhoun, 2002) pada awal abad ke duapuluh. Sebagai salah satu bagian dari positivisme, positivisme logis ingin membangun kepastian ilmu pengetahuan yang disandarkan lebih pada deduksi logis daripada induksi empiris. Kerangka pengembangan ilmu menurut tradisi positivisme telah memunculkan perdebatan tentang apakah ilmu pengetahuan sosial memang harus “diilmiahkan”. Kritik atas positivism berkaitan dengan penggunaan fakta-fakta yang kaku dalam penelitian sosial. Menurut para oponen positivism, penelitian dan pengembangan ilmu atas realitas sosial dan kebudayaan manusia tidak dapat begitu saja direduksi kedalam kuantifikasi angka yang bisa diverikasi karena realitas sosial sejatinya menyodorkan nilai-nilai yang bersifat kualitatif (Calhoun, 2002). Menjawab kritik ini, kaum positivis mengatakan bahwa metode kualitatif yang digunakan dalam penelitian sosial tidak menemukan ketepatan karena sulitnya untuk di verifikasi secara empiris.

Tokoh-tokoh yang paling berpengaruh dalam mengembangkan tradisi positivisme adalah Thomas Kuhn, Paul K. Fyerabend, W.V.O. Quine, and filosof lainnya. Pikiran-pikiran para tokoh ini membuka jalan bagi penggunaan berbagai metodologi dalam membangun pengetahuan dari mulai studi etnografi sampai penggunaan analisa statistik.

Pragmatisme
Pragmatisme adalah mashab pemikiran filsafat ilmu yang dipelopori oleh C.S Peirce, William James, John Dewey, George Herbert Mead, F.C.S Schiller dan Richard Rorty. Tradisi pragmatism muncul atas reaksi terhadap tradisi idealis yang dominan yang menganggap kebenaran sebagai entitas yang abstrak, sistematis dan refleksi dari realitas. Pragmatisme berargumentasi bahwa filsafat ilmu haruslah meninggalkan ilmu pengetahuan transendental dan menggantinya dengan aktifitas manusia sebagai sumber pengetahuan. Bagi para penganut mashab pragmatisme, ilmu pengetahuan dan kebenaran adalah sebuah perjalanan dan bukan merupakan tujuan.

Pada awalnya pragmatisme dengan tokoh-tokohnya mengambil jalan berpikir yang berbeda antara satu dengan lainnya. Peirce (dalam Calhoun, 2002), misalnya, lebih tertarik dalam meletakkan praktek dalam bentuk klarifikasi gagasan-gagasan. Peirce adalah tokoh yang menggagas konsep bahasa sebagai media dalam relasi instrumental antara manusia dengan benda. Gagasan ini kemudian disebut sebagai semiotik. James, tokoh yang mempopulerkan pragmatism, lebih tertarik dalam menghubungkan antara konsepsi kebenaran dengan area pengalaman manusia yang lain seperti; kepercayaan dan nilai-nilai kemasyarakatan. Tokoh selanjutnya, Dewey, menjadikan pragmatisme sebagai basis dari praktek-praktek berpikir secara kritis. Pendekatan Dewey (1916) yang pragmatis dalam pendidikan, misalnya, menitikberatkan pada penguasaan proses berpikir kritis daripada metode hafalan materi pelajaran.

Sumbangan dari pragmatisme yang lain adalah dalam praktek demokrasi. Dalam area ini pragmatisme memfokuskan pada kekuatan individu untuk meraih solusi kreatif terhadap masalah yang dihadapi.

Kesimpulan
Pandangan dan gagasan filsafat ilmu berkembang dalam dialektika yang sangat dinamis. Hal ini karena berbagai pemikiran baru muncul menggantikan konsep-konsep dan pikiran lama. Namun demikian, walaupun masing-masing aliran ada kelebihan dan kelemahannya, setiap aliran filsafat ilmu saling berkonstribusi dengan saling menyapa secara kritis. Dari pokok bahasan di atas, semau filsafat ilmu memberkan kontribusi yang signifikan bagi terbentuknya pemikiran ilmu pengetahuan modern.

Referensi:
Calhoun, C, 2002, Dictionary of the social science, Oxford University Press,
Oxford.
Dewey, J, 1916, Democracy and education: An introduction to the Philosophy of Education, Macmillan, NY.
Francis, P & Dinnen, S.J, 1996, An introduction to General Linguistic, Holt, Rinehart and Winston, INC, New York.
Habermas, J, 1987, The theory of communicative action, Beacon Press, Boston.
Nasr, H, 1993, History of Islamic Philosophy, Ansariyan Publications, Shohada Str. Qum.

http://endro.staff.umy.ac.id/?p=87

Perbedaan Bahasa di Daerah Temanggung, Magelang, dan Purworejo

A.    Perbedaan Fonologis
            Perbedaan fonologis menyangkut perbedaan fonetik atau perbedaan fonologikal. Ada pun perbedaan fonologis dalam bahasa Jawa di tiga daerah ini adalah sebagai berikut.
No.
Gloss
Temanggung
Magelang
Purworejo
Perbedaan Fon
1.
Isi tulang
suŋsUm
sumsUm
suŋsUm
ŋ dan m
2.
Jari tengah
panuŋgUl
pənuŋgUl
pənuŋgUl
a dan ə
3.
Orang
wכŋ
u wכŋ
wכŋ
u
4.
Ayah
bכpכ
bapa?
bapa?
כ dan a,?
5.
Kakak perempuan
mba? ayu
mba?yu
mba?
A
6.
Kakak laki-laki dari ayah/ibu
suwכ
siwכ
pa?de
u dan i
7.
Sendok
cendhכ?
sendhכ?
sendhכ?
c dan s
8.
Labu
walכh
walUh
walכh
כ dan U
9.
Getah
tlutכh
tlutUh
tlutUh
כ dan U
10.
Pohon
uwit
wit
wit
U
11.
Sayap
suwiwi
səwiwi
suwiwi
u dan ə
12.
Cicak
cəca?
cəcəg
cəca?
a dan ə;   ? dan g
13.
bulan
mbulan
wulan
mbulan
mb dan w
14.
Di (tempat)
naŋ
nIŋ
naŋ
a dan I
15.
Emas
mas
əmas
mas
ə
16.
Embun
əmbUn
əbUn
əmbUn
m
17.
Berbicara
כmכŋ
ŋכmכŋ
ŋכmכŋ
ŋ
18.
Berobat
tətכmbכ
tətכmbכm
tətכmbכ
m
19.
Kencing
ŋuyכh
ŋuyUh
ŋUyUh
כ dan U
20.
Menjemur
mεpεni
mεmεni
mεmεni
p dan m
21.
Selam
ñiləm
ñiləp
ñiləm
m dan p
22.
Dekat
cəpa?
cəda?
cədə?
p dan d
23.
Bara
wכwכ
mכwכ
mכwכ
w dan m
24.
Bengkak
abכh
abUh
abUh
כ dan U



B.     Perbedaan Onomasiologis
            Perbedaan onomasiologis menunjukkan nama yang berbeda berdasarkan satu konsep yang diberikan di beberapa tempat yang berbeda. Perbedaan ini terdapat pada kata-kata berikut ini.
No.
Gloss
Temanggung
Magelang
Purworejo
1.
Gigi yang menonjol keluar
mrכŋכs
saŋgar
mrכŋכs
2.
Hati
ati
manah
ati
3.
Pinggang
baŋke?an
ləmpεŋ; cəthI?
baŋke?an
4.
Telapak tangan
εpε?- εpε?
təlapa?
εpε?- εpε?
5.
Tengkuk
githכ?
cəŋəl
githכ?
6.
Kamu
de?e
kowe
Sirכ
7.
Panggilan untuk laki-laki remaja
naŋ
le
mas
8.
Adik dari istri/suami
adhi ipe
ipe
adhi ipe
9.
Adik laki-laki dari ayah/ibu
Pa?lI?
paman
Pa?lI?
10.
Adik perempuan dari ayah/ibu
mbכ? cilI?
bulI?
bulI?
11.
Ibu
ma?
simbכ?
simbכ?
12.
Istri dari kakak laki-laki ayah
ma?dhe
budhe
mbo?de
13.
Bertunangan
bayar tukכn
lamaran
bayar tukכn
14.
Kawin
ijab
rabi
mbojo
15.
Kenduri
gəndurεn
umbaŋ pamכŋan
gəndurεn
16.
Kepala kampung
bayan
tampIŋ

17.
Kerja bakti
kərja bakti
gugUr gunUŋ
kərja bakti
18.
Menguburkan
manjIŋ; ñarε?ke
ŋubUr
ñarε?ke
19.
Penghulu
pəŋulu
na?Ib
pəŋulu
20.
Upacara cuci perut wanita hamil tujuh bulan
tiŋkəb
mitכni
kəbכ
21.
Para-para
anjab
pכgכ
pכgכ
22.
Pusaka
pusכkכ
jimat
pusכkכ
23.
Ruang depan terbuka
ampכ?an
jכgכ satru; pəndכpכ
εmpεran
24.
Tiang
caga?
sכkכ
caga?
25.
Bajak
luku; garu
luku
luku; garu
26.
Dingklik
jəŋkכ?
diŋklI?
dIŋklI?
27.
Galah
gεntεr
sεŋgεt
gεntεr
28.
Tempayan
gənthכŋ
jəmbaŋan
gənthכŋ
29.
Kue
pacitan
paŋanan
rכti
30.
Nasi basi
wadaŋ
amεt
wadaŋ
31.
Nasi belum matang
ladUg
karכn
ladUg
32.
Anak dahan
caŋgal
paŋ
paŋ
33.
Benih
winεh
wiji; bibIt
wInIh
34.
Dedak
katUl
dəda?
dədə?
35.
Jerami
məraŋ
damεn
məraŋ
36.
Kelapa
krambIl
klכpכ
kambIl
37.
Minyak tanah
liyUn
Lengכ pכtrכ
pכtrכ
38.
Pepaya
gandUl
katεs
gandUl
39.
Sabut
təpəs
səpət
səpət
40.
Ubi jalar
telכ pəndəm
munthUl
mUnthUl
41.
Ubi kayu
marekan
telכ bכgכl
jendal
42.
Bangkai (manusia)
layכn
mayIt
mayIt
43.
Rusa
kidaŋ
mənjaŋan
kidaŋ
44.
Bukit
gumU?
grumbUl
gUnUŋ
45.
Dusun
dukUh
desכ
desכ
46.
Fajar
pənthεr
isu?
pənthεr
47.
Gerhana
gərhכnכ
grahכnכ
gərhכnכ
48.
Kilat
bledεg
thathIt; clεrεt
bledεg
49.
Pagi sekali
esU? umUn-umUn
upUt-upUt
isU?
50.
Berkelahi (dengan tangan)
antəm-antəman; gəlUt
jכtכsan
gəlUt
51.
Jatuh (daun, buah)
gigal
gכgrכg
gכgrכg
52.
Membawa dengan punggung
ñεŋklε?
ŋgendhכŋ
ŋgendhכŋ
53.
Memegang
ŋgocε?i
ñəkəli
ŋgocε?i
54.
Menguburkan
məndhəm
ŋubUr
məndhəm
55.
Menyahut
ñaUri
ñaUt; njawab
ñaUr; njawab
56.
Menyusui
ñusכni
ñusכni; nεtε?i
ñusכni
57.
Sentuh
ŋəmε?
ñeŋgכl
ŋəmε?
58.
Angkuh
aŋkUh; mlכtכ
aŋga?; umU?
umU?
59.
Buta
wutכ
picək
picə?
60.
Dingin
adəm
añəs
adəm
61.
Kikir
mədIt
cəthIl
mədIt
62.
Kurus
gərIŋ
kuru
gərIŋ
63.
Manjur
mandi
tijab
mandi
64.
Miskin
kere
məlarat
kere
65.
Pemarah
dhəsכn
kodo;nəsunan
nəsunan
66.
Rakus
ŋgragas
maŋas
ŋgragas; maŋas
67.
Batuk
watU?
məŋgU?
watU?
68.
Demam
ndrכdhכg
mriaŋ
mriaŋ
69.
Celana dalam
cawət
sempak
cawət
70.
Kebaya
klambi baya?
mbaya?
klambi baya?
71.
Kopiah
kuplU?
kəthu
kUplU?
72.
Kacang panjang
gleכr
kacaŋ panjaŋ
kacaŋ panjaŋ
73.
Saya
aku
aku
əñכŋ
74.
Upacara puput pusar
selapanan
selapanan
Puputan
75.
Kamar
senthכŋ
senthכŋ
Kamar
76.
Pelimbahan
pəcərεn
pəcərεn
cכmbεran
77.
Cobek
cכwε?
cכwε?
Lεyεh
78.
Gayung
siwUr
siwUr
cidU?



C.    Perbedaan Semasiologis
            Perbedaan semasiologis menunjukkan nama yang sama untuk konsep yang berbeda. Perbedaan semasiologis terdapat dalam kata-kata berikut ini.
No.
Kata
Makna I
Makna II
1.
paŋanan
kue
Segala macam makanan
2.
cəthIl
kikir
Makanan tradisional terbuat dari tepung tapioka yang ditaburi parutan kelapa dan gula pasir, dibungkus daun pisang
3.
cכthכt
Keluarnya cairan dari lubang kecil karena tekanan dari luar
Makanan dari singkong rebus yang ditumbuk berisi gula pasir, dibentuk pipih seperti pastel dan digoreng
4.
mendhUt
Nama candi Budha di Magelang
Makanan dari tepung beras ketan, berisi parutan kepala dan gula jawa, disiram kepala santan (areh), dibungkus daun pisang, dikukus





D.    Perbedaan Morfologis
            Perbedaan morfologis menyangkut aspek afiksasi, reduplikasi, komposisi, dan morfofonemik. Perbedaan morfologis terdapat dalam kata-kata berikut.

No.
Gloss
Temanggung
Magelang
Purworejo
Aspek pembeda
Ubun-ubun
mbun-mbun
mbun-mbunan
mbun-mbunan
Afiksasi, sufiks –an
2.
Kita
awa?e ndhewe
awa? ndhewe
dhewe?
Afiksasi, sufiks –e; pemajemukan
3.
Adik laki-laki ayah/ibu
pa?lI?
lI?
pa?lI?
Morfofonemik
4.
Kakak perempuan
mba? ayu
mba?yu
mba?
Pelesapan huruf a
5.
Setandan pisang
sa?tundUn
sətundUn
sətUndUn
Perbedaan prefiks sa?- dan se-
6.
Lereng
pεrεŋan
εrεŋ- εrεŋ
pεrεŋan
Adanya afiksasi dan reduplikasi
7.
Matahari
səŋrəŋe
srəŋəŋe
səŋrəŋe
Pembalikan letak huruf r
8.
Ingat
kεliŋan
elIŋ
kεliŋan
Afiksasi; konfiks ke-an




E.     Perbedaan Sintaksis
            Perbedaan sintaksis menunjuk pada perbedaan struktur frasa atau klausa yang digunakan untuk menyatakan makna yang sama. Dalam bahasa Jawa daerah Temanggung, Magelang, dan Purworejo tidak terdapat perbedaan struktur atau susunan kalimat, tetapi ada perbedaan dalam pilihan kata. Kalimat tanya yang menuntut jawaban ya atau tidak pada bahasa Jawa daerah Temanggung dan Magelang tidak menggunakan kata tanya meskipun mengenal kata tanya. Sedangkan kalimat tanya lainnya, kata tanya diletakkan di akhir kalimat.

1.          Gloss       : Nanti aku berangkat bersama adikku.
Tmg         : /məŋkכ aku maŋkat karo adiku/
Mgl          : /əŋkכ aku maŋkat mbε? adiku/
Pwr          :
2.          Gloss       : Ke mana kau akan pergi?
Tmg         : /de?e arε? luŋכ naŋ əndi/ ?
Mgl          : /kowe arəp luŋכ nIŋ əndi/ ?
Pwr          :
3.          Gloss       : Apakah kamu takut?
Tmg         : /de?e wədi ra?/ ?
Mgl          : /wedi pכ/ ?
Pwr          :
4.          Gloss       : Dia makan, lalu disuruh cuci piring.
Tmg         : / dεwε?e madhaŋ nju? dikכn asah-asah/
Mgl          : / dεwε?e madhaŋ nju? dikכn asah-asah/
Pwr          :
5.          Gloss       : Ayo, cepat dikerjakan agar cepat selesai!
Tmg         : /ayo, ndaŋ digarap, ndaŋ rampuŋ/ !
Mgl          : /ayo, ndaŋ digarap, ndaŋ rampuŋ/ !
Pwr          :





Sumber: http://ceritahidupdaning.blogspot.com/2011/10/perbandingan-bahasa-jawa-di-daerah_1980.html

MONOGRAFI KOMPREHENSIF SEJARAH KECAMATAN SUMOWONO : Kajian Geopolitik, Dinamika Kartografi Mikro, dan Fajar Otonomi Daerah (1830–1929)

  Oleh: Rosyid Hikmatiar, S.Hum. KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rampungnya buku monografi sejarah yang berta...