Memetakan Denyut Nadi 129 Kelompok Seni Sumowono: Dari Kesenian Langka hingga Dominasi Religi

 Bagi seorang Pamong Budaya, melihat sebuah wilayah tidak sekadar menghitung batas administrasi atau jumlah penduduknya. Lebih dari itu, wilayah adalah sebuah ekosistem kebudayaan yang hidup dan terus bergerak. Ketika menyelami data inventarisasi kelompok kesenian di Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, kita akan disuguhkan pada sebuah peta kultural yang sangat kaya: tercatat ada lebih dari 129 lembaga kesenian aktif yang tersebar di berbagai desa.

Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas laporan dinas. Di balik deretan nama tersebut, ada denyut nadi spiritualitas masyarakat, ruang kreativitas pemuda, sekaligus alarm sunyi tentang beberapa kesenian lokal yang mulai terancam punah.
Melalui kacamata pemandangan makro, mari kita petakan bagaimana anatomi dan karakteristik ekosistem kesenian yang ada di lereng Gunung Ungaran ini.
1. Alarm Perlindungan: Ruang Sunyi Kesenian Langka
Berdasarkan amanat UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, pilar pertama yang harus dikawal adalah Perlindungan. Di Kecamatan Sumowono, perhatian khusus harus kita arahkan pada kategori kesenian langka yang kini jumlahnya bisa dihitung dengan jari, di antaranya:
  • Kesenian Sandul: Salah satunya dirawat oleh kelompok “Sekar Langen Bekso Carito” di Dusun Semanding, Desa Candigaron.
  • Kesenian Minak Koncer: Dipertahankan oleh kelompok “Karya Budaya” di Dusun Resowinangun, Desa Pledokan.
Kesenian-kesenian ini ibarat peninggalan sejarah yang rapuh. Tanpa adanya intervensi berupa fasilitasi pementasan dan regenerasi dari para pelaku seni, ekspresi budaya yang unik ini terancam hilang dari ingatan kolektif generasi mendatang.
2. Dominasi Nafas Religi: Akulturasi Seni Islam di Pedesaan
Jika melihat persentase jumlah kelompok, rumpun kesenian berbasis Islam seperti Rebana, Hadroh, Qasidah, dan Sholawat menjadi kelompok yang paling subur dan mendominasi di Sumowono. Hampir setiap desa memiliki lebih dari satu kelompok religi.
Desa Jubelan, misalnya, memiliki ekosistem religi yang sangat kuat dengan adanya Grup Nasyid Baitul Mukminin, Rebana Al Ansor, hingga Majelis Taklim Sakinah. Begitu pula di Desa Lanjan yang memiliki belasan grup rebana seperti Tombo Kangen, Al Mas'udiyah, hingga Rebana Mocopatan Syafa'at yang memadukan sastra Jawa lama dengan nafas islami. Fenomena ini menunjukkan bahwa di Sumowono, kesenian tradisional telah lama berakulturasi secara harmonis dengan nilai-nilai spiritualitas masyarakat setempat.
3. Eksotisme Kesenian Rakyat: Simbol Epik Kegagahan
Selain nafas religi, Sumowono juga menjadi rumah yang subur bagi kesenian rakyat berkarakter komunal, ekspresif, dan heroik. Reog, Kuda Lumping (Jaranan), dan Topeng Ireng tumbuh kuat di wilayah lereng agraris ini.
Kita bisa melihat bagaimana Desa Candigaron mengasuh beberapa kelompok reog sekaligus, seperti Reog Manunggal Kridho Budoyo Langgeng dan Greget Mustiko Watang. Sementara itu, wilayah seperti Desa Kemitir memelihara kesenian yang khas lewat kelompok Topeng Ireng Wahyu Manunggal dan Greget Manunggal. Kehadiran rumpun seni ini menegaskan bahwa karakter masyarakat Sumowono tetap menjunjung tinggi nilai ketegasan, kegagahan, dan kerja sama tim yang diwariskan dari filosofi latihan perang prajurit zaman dahulu.
Menatap Masa Depan Kebudayaan Sumowono
Dari pemetaan data ini, kita tahu bahwa potensi kebudayaan di Kecamatan Sumowono sangatlah masif. Dari seni komoditas modern seperti Orkes Dangdut Arista di Lanjan hingga tradisi klasik seperti Karawitan Nglaras Budoyo di Kemitir, semuanya mengisi ruang ekspresi yang saling melengkapi.
Namun, tugas berat menanti di depan. Sebagai bagian dari pilar Pembinaan dan Pemanfaatan, pemerintah daerah, pemerintah desa, serta para pelaku seni harus berkolaborasi secara taktis. Pembinaan tidak boleh pincang: kelompok yang sudah mandiri dan populer tetap didukung, namun kesenian langka seperti Sandul dan Minak Koncer harus mendapatkan porsi penyelamatan prioritas.
Kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis dan mati di dalam museum. Ia hidup di halaman rumah warga, di atas panggung-panggung dusun, dan di dalam semangat gotong-royong para pelakunya. Tugas kita hari ini adalah memastikan seluruh obor kesenian di Sumowono ini tetap menyala, melintasi zaman tanpa kehilangan jatidirinya.
Salam Budaya!

© Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Seluruh konten dalam blog ini ditulis berdasarkan pemikiran, pengamatan lapangan, dan tugas kedinasan Rosyid Hikmatiar (Tiar Blog Zal Delen). Dilarang keras menyalin, mempublikasikan ulang, atau menjiplak tulisan ini tanpa menyertakan sumber tautan aktif.

Komentar